DTF 003). Orang (terlalu) Ulet Itu Bisa Menyesatkan

downloadOrang (terlalu) ulet itu bisa menyesatkan.
Contohnya masih dari sebuah kelas, atau sekolah. perguruan tinggi.
Mencari ilmu itu memang tidak gampang, kadang jungkir balik untuk bisa meraih prestasi belajar lewat bangku sekolah.
Ada satu sekolah, Selalu dengan permintaan dana atau sumbangan pada murid-muridnya.
Sedemikian sering adanya kutipan pungutan yang dibebankan kepada para orang tua murid, sebagian dari mereka merasa tidak mampu lagi memenuhi permintaan sekolah tersebut. Baca lebih lanjut

DTF 002). Orang (terlalu) Pintar Itu Bisa Menyesatkan

1303020681990259608_300x375.65217391304
(Jangan salah, dikatakan bisa menyesatkan, bukan orang pintar itu menyesatkan)

Contohnya, dalam satu kelas, ada satu Amir yang pintar, terlalu pintar malah.
Dalam setiap proses pembelajaran dia tampil cemerlang, terdepan dalam mengunyah setiap materi pembelajaran. menjawab setiap soal.
Kelamaan si Amir jadi menyesatkan sang guru dalam menterjemahkan kemampuan belajar rata-rata temannya. Baca lebih lanjut

DTF 001) Kenyataan Tak Pernah Salah

 

download (2)Kenyataan, apa pun itu, mau baik atau seburuk apa, itu tidak salah kejadiannya. karena dia disebabkan.
Karena disebabkan setiap kejadian sudah tepat penampakkannya. Benar atau salah, baik atau buruk, itu adalah ukuran konform tidaknya suatu kenyataan dengan nilai-nilai atau norma yang kita pegang atau sepakati secara sosial.
Jadi kalau kenyataan korupsi itu tidak salah kejadiannya, salahnya karena korupsi itu merugikan atau bertentangan dengan norma-norma hukum yang berlaku.
Jadi tugas kita bagaimana menkonformkan setiap kejadian menjadi sesuai dengan nilai atau norma-norma itu.
Memahami kenyataan tidak pernah salah, adalah usaha meretas semua sebab untuk kita perbaiki sehingga akibat(kenyataan)nya bisa sesuai dengan nilai-nilai yang kita pegang.
(Di Timur Fajar)

LINK POSTINGAN PENTING

http://kwikkiangie.com/v1/2012/03/kontroversi-kenaikan-harga-bbm/

Di Timur Fajar 727).


. Kalau kita diberi kesempatan sebagai pemimpin dalam mengatasi sebuah kesulitan, berpikirlah bagaimana membuat keadaan: diri kita dan orang lain, semua perangkat serta semua cara, bergerak secara bersama bisa mengatasi kesulitan itu.
. Bukan terlalu menghebati diri, mengandalkan kemampuan diri pribadi bisa mengatasi kesulitan itu.
. Apalagi dengan kemampuan dan kesempatan itu kita hanya menyelamatkan diri dari kesulitan tersebut. Atau, hanya kalau kita ada kesulitan itu bisa diatasi.
. Sebab…,
. Sekali waktu kita pensiun dari kesempatan itu, uzur dari semua kemampuan itu, kita akan menyesalinya luar biasa. Luar biasa karena sudah berada di luar system baru menyadarinya. Pernah ada di sana tapi tidak sampai memampukan keadaan, memampukan orang lain, membuat mereka berpikir untuk mampu secara bersama. Lantas sekarang begini jadinya. Kita ditelantarkan dari cara yang sama, dengan ego yang serupa. Mereka yang mampu dan kita beri kesempatan, hanya ingin menyelamatkan dirinya sendiri, mengangkangi kekuasaan demi kepentingan kelompoknya sendiri.
. Hiks, hiks.
(Di Timur Fajar)
Baca lebih lanjut

Mencoba Perduli (Fragmen Pagi)

.  Ada tiga anak kakak beradik, masih kecil dengan potongan beruntut, datang membeli mainan. Melihat mereka batin saya membersit, dengan cara apa mereka hidup? Adakah kebutuhan makan dan hidup mereka terpenuhi? Masih ada lagi tiga setengah saudara mereka lain (ibunya sedang hamil), jadi nanti sembilan bersama orang tuanya. Mampukah mulut mereka disuapi dari upah buruh tukang bangunan bapak mereka?12q
Nyatanya mereka masih hidup. Kelihatan sehat ceria pula, cerianya anak-anak.
Sedianya saya harus berpikir, itu urusan Allah dengan hamba-hambaNya, dan saya tidak perlu mencampuri hidup mereka dengan pikiran-pikiran seperti ini. Baca lebih lanjut

KESALAHAN KITA TERHADAP MAKNA UJIAN (NASIONAL)

(Mungkin Saya Salah, Tolong Dikoreksi)

Apakah untuk dan hanya karena si monster ini kita belajar?

Apakah untuk dan hanya karena si monster ini kita belajar?


. Sudah lama saya begitu cermat mengamati perilaku yang namanya Ujian Nasional.
. Masih setahun datangnya, saat siswa beranjak ke kelas III, siUN sudah menjadi momok yang mulai diperhitungkan, cenderung diwaspadai salah menyikapinya. Bahkan sekarang siswa sejak dari kelas I mulai (cenderung) dikatrol nilai raportnya untuk persiapan menggenapkannya dengan hasil nilai Ujian Nasional.
Banyak perdebatan seputar sahih tidaknya Ujian Nasional sebagai tolok ukur yang memvonis sukses gagalnya akhir belajar siswa di bangku sekolah. Saya tidak ingin menambahnya, tapi ingin berbagi pendapat mempertanyakan makna ujian dalam belajar siswa.
. Ujian sebenarnya alat evaluasi yang menilai sejauhmana keberhasilan belajar siswa pada satu satuan waktu: tengah(mid), smester, tahunan (kenaikan kelas), ujian akhir. Pada tahunan dan ujian akhir, ujian sudah bersifat vonis. Sukses atau gagal naik kelas atau lulus sekolah.
. Sebenarnya siapa yang dinilai dalam evaluasi belajar siswa? Menurut saya (mungkin saya salah, tolong dikoreksi) yang dinilai adalah semua hal yang membuat belajarnya siswa meningkat, stagnan atau malahan mundur. Jadi obyek penilaian adalah semua hal itu, sempurna atau padukah semua itu menunjang keberhasilan belajar siswa? Baik guru, media, metode, sarana dan fasilitas, maupun kebijakan kurikulumnya? Jadi yang dinilai adalah semua unsur lain dan bukannya siswa.
. Lalu siswa ditempatkan sebagai apa?
. Menurut saya, siswa kita tempatkan sebagai medium, atau apa namanya, yang mau memberitahukan dengan jujur melalui alat evaluasi itu, ujian atau ulangan, sejauhmana semua hal tadi berhasil meningkatkan belajar siswa atau sukses tidaknya di saat penentuan naik kelas atau lulus sekolah.
. Memberitahukannya harus secara jujur, dengan tidak memaksakan diri belajar mengada-ngada, dengan begitu malah mengganggu penilaian kita kepada semua hal/pihak yang akan dinilai tadi: guru, kepsek, pengambil kebijakan, sebagai subyek yang menggerakkan semua media, metode dan fasilitas yang menyempurnakan belajar siswa.
. Kenapa siswa tidak ditempatkan sebagai subyek? Dalam evaluasi tidak, tapi dalam proses belajar-mengajar mereka kita jadikan sebagai obyek taruhan kita sebagai pihak yang ingin kita rubah dari tidak tahu menjadi tahu.
. Lagi-lagi kenapa siswa tidak ditempatkan sebagai subyek?
. Mereka kita tempatkan sebagai subyek yang mau dengan sadar membelajarkan diri, mencapai perubahan melalui bantuan guru dan subyek lain serta perangkat pembantu. Sebagai subyek mereka bisa menempatkan dirinya sebagai obyek yang dinilai sendiri sejauh mana menyadari dirinya sudah berhasil atau belum.
. Nah, baik sebagai subyek mau pun obyek, siswa menjadi obyek medium yang diamati terus menerus, sejauhmana berhasil dikembangkan oleh semua hal yang berperan ke sana. Peran semua itulah yang dinilai dalam ujian belajar siswa.
. Lalu tidak perlukah ujian sebagai penentu kenaikan kelas atau lulus sekolah?
. Perlu. Kalau perspektif evaluasi tadi di atas sebenarnya target yang dikejar di saat sebelum kenaikan kelas atau ujian. Semua alat/pihak yang dievaluasi terus mengfollow up diri dan alatnya sudah membuat belajar siswa purna ketika tiba pada saatnya ujian akhir dan kenaikan kelas. Karena sudah pada tahap evaluasi dengan nilai harga tetap/mati.
. Pada evaluasi dengan nilai dan harga tetap itu, siswa cuma tinggal memberitahukan harga atau nilai belajarnya untuk penjurusan pada kenaikan kelas, dan penentuan ke mana kelanjutan pendidikan selanjutnya pada ujian akir sekolah. Jadi tidak ada lagi namanya kegagalan siswa. Gagal adalah kegagalan semua hal yang berperan dalam keberhasilan siswa yang tidak terkejar sampai pada tahap itu. jadi guru dan semua pihaklah yang seharusnya dinyatakan gagal dan lulus ujian kalau mau dikatakan demikian.
. (Di Timur Fajar)

1302551933780545049_300x382.47011952191

Ini rumus alien, apa?

Solusi Dengan Pendekatan Sistem

. .Dalam hal menyikapi dan mencari solusi dari suatu masalah, saya suka menggunakan pendekatan sistem. Dalam artian suatu masalah kita dekati dengan perbaikan sistem. Sistemnya yang kita benahi, bukan hanya semata mengandalkan ketangguhan pribadi mengatasinya.
. .Usaha pribadi tetap kita fungsikan tetapi sebagai agen perubahan atau unsur penyangga dari sistem itu (sub sistem). Agen of change atau apa yaa? Gak tau istilah kerennya.
. .Saya ambil contoh:
. .Pernah berapa kali dalam tayangan investigasi TV mana itu, kita diberitahu trik dan tips mengenali jualan makanan yang berformalin. Kepada kita diperingatkan bahaya formalin. Cara mengenali makanan berformalin, seperti apa ciri-cirinya.
Sayangnya selagi menyimak tayagannya, ketelmian (terlalu mikir) saya sudah ngelantur ke mana-mana. Ada dua hal yang saya pikir:
. .Pertama, gimana ya dengan mereka yang tidak sedang menonton acara ini, yang tidak punya TV, tidak mudeng dengan acara semacam ini, atau kesibukan dan kesulitan hidup membuat mereka tidak punya waktu dan kesadaran menonton

Masih dengan: ” Ingin Punya sekolah”

imagesJika aku punya sekolah dan miliki otoritas penuh di dalamnya, maka:
“Akan kubenahi keterbengkalaian yang ditinggalkan oleh sekolah itu,”
“Akan kukejar ketertinggalan yang dikurangi oleh sekolah itu.”
“Akan kuisi kekurangan yang disia-siakan oleh sekolah itu.”
“Akan kulangkahi kesia-siaan yang tidak perlu diajarkan di sekolah itu.”
( Di Timur Fajar)jjj

CEMBURUKAH KITA?

index
. . Pernahkah kita cemburu? Mungkin, atau lebih dari itu; sering. Boleh jadi kita tidak bisa mengelaknya, seandainya itu telah menjadi sifat kita.
. . Cemburu adalah perasaan yang mengundang ketidaksenangan, kasih sayang kita akan direnggut orang lain. Uniknya, banyak orang berpikir: cinta tanpa cemburu adalah palsu. Padahal cemburu tidak lain dari sekedar perasaan yang mengemban cinta akan diri sendiri. Tapi untuk mengatakan kita tidak cemburu , sangat sulit. Setiap orang mendambakan dirinya dicintai, disayangi, . . .
. . Bagaimana seandainya dunia ketiadaan cemburu? Seorang pertapa bisa saja mengkhayalkan demikian. Dan itu tidak mungkin terlaksana. Cemburu adalah sifat yang manusiawi. Yang mengenakannya adalah manusia juga. Baca lebih lanjut