MENGAPA ORANG BAIK SERING TERSAKITI?

 

Karena orang baik selalu mendahulukan orang lain. Dalam ruang kebahagiaannya, ia tidak menyediakan tempat untuk dirinya sendiri, kecuali hanya sedikit.
MENGAPA ORANG BAIK KERAP TERTIPU?

Karena orang baik selalu memandang orang lain tulus seperti dirinya. Ia tidak menyisakan sedikitpun prasangka bahwa orang yang ia pandang penyayang mampu mengkhianatinya.

MENGAPA ORANG BAIK ACAP DINISTA?

Karena orang baik tidak pernah mau membalas. Ia hanya menerima, meski bukan dia yang memulai perkara.

MENGAPA ORANG BAIK SERING MENETESKAN AIR MATA?

Karena orang baik tidak ingin membagi kesedihannya. Ia terbiasa mengobati sendiri lukanya, dan percaya bahwa suatu masa Yang Maha Kuasa akan mengganti kesabarannya.

NAMUN ORANG BAIK TIDAK PERNAH MEMBENCI YANG MELUKAINYA.

Karena orang baik selalu memandang bahwa di atas itu semua, Yang Maha Kuasa lah hakikatnya. Jika orang tersebut digiring, bagaimana ia akan mendebat kehendak-NYA.

Itulah sebabnya orang baik tidak memiliki almari dendam dalam kalbunya. Jika anda buka laci-laci di hatinya, yang akan anda temukan hanya Cinta-Kasih yang dimilikinya.

Tetaplah berusaha menjadi orang yang baik, meskipun seringkali kecewa dan tidak dihargai. Namun mata Tuhan menilik apa yang kita lakukan. (Copas)

Kenyataan Ahok dan Demo Yang Tidak Salah

DTF 006).
Kenyataan Tidak Pernah Salah, secara setiap kejadian itu disebabkan.
Kenyataan Ahok menista kitab suci agama lain, tidak salah, karena purna sudah semua sebab yang menjadikan dia melakukan itu semua.
Sebab dia melakukan:, karena sudah begitu gaya ceplas-ceplosnya.
Sebab dia melakukan: Apa merasa untochable, hukum tak pernah bakal menyentuhnya?.
Sebab dia melakukan:, Apa karena ada orang kuat di belakangnya?
TAPI..,,
Kenyataan juga tidak salah, kalau 4 november nanti demo besar-besaran bakal tumpah ruah menuntutnya.
Karena purna sudah kemuakkan umat Islam melihat tingkah laku Ahok,
Yang memuncak ketika dia menistakan kitab suci umat Islam sejagat.
Kemuakkan yang dikondisikan hukum yang tidak ditegakkan sama adilnya. *)
Kemunafikan yang ditunjukkan penguasa yang tidak berlaku sama mengayomi rakyatnya.
(Di Timur Fajar)
*) Ada kasus Arswendo, Pemred majalah Monitor dengan polling yang menghina nabi Muhammad. Mendekam di penjara 5 tahun.
Juga kasus ibu rumah tangga di Bali yang dianggap menghina tempat ibadah agama Hindu. dipenjara 14 bulan.

Belajar Memahami Kesalahan Orang Lain

DTF 005).
Semakin baik kita, maka semakin sulit kita memahami orang lain dengan kesalahannya yang biasa saja.
Semakin buruk seseorang, sulit bagi kita yang cuma orang biasa memahami keburukannya,
Semakin baik kita, lalu semakin jahat seseorang, maka betapa teramat sulitnya kita memahami kejahatannya.
Ibarat kita yang jauh di sini, sementara sijahat ada di dekat jurang sana, lantas kita berpikirnya seperti ini: “Bagaimana Mungkin Kita Yang Jauh Di Sini, Bisa Jatuh Ke Dalam Jurang Kesesatan Yang Nun Jauh Di Sana?”.
Sesungguhnya setiap orang yang melakukan suatu kesalahan, dia itu sudah di dekat bibir jurang tersebut. Tersenggol sedikit saja dia sudah jatuh.
Kenyataan Tidak Pernah Salah, secara sesuatu itu disebabkan.
(Di Timur Fajar)

DTF 10). Kebenaran Itu Otonom Sifatnya

Kebenaran dan kebaikan itu otonom sifatnya.
Mencintai keluarga itu benar dan baik adanya.
Dan tetap benar dan baik sekali pun yang mengucapkannya ketahuan suka menelantarkan keluarganya.
(Di Timur Fajar)

DTF 09). Belajar Berbeda Dalam Keyakinan

Bicara soal beda keyakinan yang sering memicu konflik:
Kita tidak bisa menyalahkan orang lain dengan keyakinannya. Mereka lahir sudah dengan keyakinan itu, Dan kita lahir dalam keluarga dengan keyakinan yang sekarang ini kita pegang.
Lagian orang tidak bisa memilih dilahirkan dalam keluarga dengan keyakinan yang macam mana.
Kalau pun sebelum lahir kita diberi kesempatan memilih, toh kita belum punya reference tahu keyakinan mana yang paling benar. Terus apa yang salah?
(Di Timur Fajar)

DTF 08). Tuhan Mensyaratkan Sebab Untuk Mengizinkan Akibat

Tuhan mensyaratkan sebab untuk mengizinkan akibat, seburuk apa pun itu..
Tuhan mensyaratkan hanya dari sebab-sebab mengkorupsikan, (yang kita biarkan), maka Dia mengizinkan hamba-hambaNya melakukan korupsi.
Lalu untuk memperbaikinya, kita disyaratkan mengkondisikan sebab-sebab (sistem anti korupsi), maka perilaku korupsi itu Dia izinkan bisa kita kurangi sedikit demi sedikit. Tak usah seketika, atau sontak dengan hukuman mati. Karena kasihan mereka melakukan korupsi di saat kita gagal mengkondisikan sistem yang anti korupsi, atau tidak pernah sadar akan hal itu. Memahami sebab-sebabnya untuk berproses memperbaikinya.
(Di Timur Fajar)

DTF 07). Rumus Kenyataan Tak Pernah Salah (3)

Lanjut dengan rumus sisa, satu lagi:
Negatif kali positif = negatif
Orang yang salah pada waktu yang benar = salah
Santri yang (jadi) maling pada waktu di pesantren = salah
Yang benar; kalau santri itu terbukti dia maling, maka dia berada pada waktu yang me’maling’kan. Baca lebih lanjut

DTF 06). Rumus Kenyataan Tak Pernah Salah (2)

Lanjut dengan topik diskusi sebelumnya,
(terserah kalau ada yang tertarik menanggapinya, toh saya bisa diskusi dengan pikiran saya sendiri)
Sama halnya rumusan positif kali positif = negatif, maka
orang yang benar pada waktu yang salah = salah kejadiannya.
Contoh: Ada yang jadi ustad di kampung maling, atau contoh lainnya;
Ada yang masih gak korup/bersih satu wakil rakyat kita di tengah korupsi berjamaah rekan2nya (hampir semua korupsi)
Maka kita katakan orang itu, orang yang benar pada waktu yang salah.

Baca lebih lanjut

DTF 005). Rumus Kenyataan Tak Pernah Salah (1)

(Untuk didiskusikan, )

“Kenyataan Tidak Pernah Salah, (secara kausalitas) seburuk apa pun itu.
Kenyataan seorang melakukan korupsi, tidak salah kejadiannya, karena dia melakukannya dari sebab-sebab yang mengkorupsikan”
Kenyataan korupsi hanya salah pada ukuran dia tidak sesuai dengan norma-norma yang kita anut, hukum, agama, sosial. Baca lebih lanjut

DTF 004). SISTEM

 

Sistem?
Saya suka menggunakan istilah ini, tapi mungkin salah dimaknai bagi yang membacanya.
Ada salah kaprah (menurut saya begitu), sistem adalah aturan, undang-undang, semata itu.
Jadi kalau sistemnya tidak baik, dimaksudkan aturannya, undang-undangnya gak benar.
Sering terucap, sistemnya sih sudah baik, manusianya saja yang gak benar. Itu menunjukkan sistem yang kita maksud: aturannya sudah baik, manusianya saja yang gak beres. Baca lebih lanjut