Lanjut dengan topik diskusi sebelumnya,
(terserah kalau ada yang tertarik menanggapinya, toh saya bisa diskusi dengan pikiran saya sendiri)
Sama halnya rumusan positif kali positif = negatif, maka
orang yang benar pada waktu yang salah = salah kejadiannya.
Contoh: Ada yang jadi ustad di kampung maling, atau contoh lainnya;
Ada yang masih gak korup/bersih satu wakil rakyat kita di tengah korupsi berjamaah rekan2nya (hampir semua korupsi)
Maka kita katakan orang itu, orang yang benar pada waktu yang salah.


Tidak korup pada waktu semua teman2nya jadi korupsi.
Bisa dikatakan kejadiannya salah, dengan penjelasan sebagai berikut:
Sesungguhnya dia tidak jadi korupsi pada waktu yang tidak mengkorupsikan untuk ukuran dia, tidak untuk ukuran (waktu) bagi semua teman-temannya yang pada jadi koruptor.
Mungkin ketahanannya untuk tidak korupsi lebih besar, atau di saat orang semua pada membahas proyek yang sarat korup, dia pas lagi ke WC, atau cuti sakit.
Artinya sebab-sebab yang mengkorupsikan banyak orang tidak berlaku ukuran sebab itu pada dirinya.
Bisa diberikan contoh.

Kuman itu negatif, penyakit. Orang yang terkontak kuman potensial dia jadi berpenyakit.
Tapi pada kadar kuman yang terukur, dalam bentuk vaksin, seseorang malah jadi kebal oleh penyakit.
Dengan kata lain, dia malah jadi tidak penyakitan pada waktu yang membuat orang (terkena kuman) pastinya jadi berpenyakit.
Dan fenomena ada yang tetap benar pada waktu yang salah ini sering kita salah gunakan untuk tidak memperbaiki sistem.
Hanya karena ada satu orang yang tidak korup pada waktu (sistem) yang korup, lalu sistemnya tidak kita perbaiki, yang banyak yang korup kita minta berkaca pada satu orang yang tidak korp tersebut.
Padahal tidak korupsinya adalah kasuistik, sementara yang banyak korup adalah sistematik, yang perlu kita perbaiki sebab-sebabnya.
Kesimpulannya: kalau ada hanya satu atau sedikit orang yang tidak korup di antara 99 orang yang korup, maka perdulilah dengan semua sebab yang membuat banyak orang jadi korup, bukan terkagum2 pada satu orang yang tidak korupsi.
Lihat dan sadari, betapa sistem yang sedianya perlu kita bangun, sudah membuat banyak orang gagal di situ, cuma menyisakan satu orang yang bersih.
Itu pun bersihnya bukan karena sistemnya, tapi sudah dari sononya, atau ada faktor-faktor insidentil lainnya.
Itu dulu.
(Di Timur Fajar)

About Di Timur Fajar (DTF)

Aku andaikan mereka dan mereka andaikan aku. Cobalah berempati: merasakan berada pada posisi mereka, maka akan banyak yang bisa kita mengerti dan pahami tentang mereka, tentang kesalahan mereka. Karena kenyataan tidak pernah salah. Tuhan menghadiahi kita akal, bahwa ada kausalitas dalam setiap persoalan. Maka pandai-pandailah menguraikannya." Jadilah diri sendiri namun tak ada salahnya Anda(i) coba berempati dalam posisi orang lain. ( Di Timur Fajar / DTF )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s