.  Ada tiga anak kakak beradik, masih kecil dengan potongan beruntut, datang membeli mainan. Melihat mereka batin saya membersit, dengan cara apa mereka hidup? Adakah kebutuhan makan dan hidup mereka terpenuhi? Masih ada lagi tiga setengah saudara mereka lain (ibunya sedang hamil), jadi nanti sembilan bersama orang tuanya. Mampukah mulut mereka disuapi dari upah buruh tukang bangunan bapak mereka?12q
Nyatanya mereka masih hidup. Kelihatan sehat ceria pula, cerianya anak-anak.
Sedianya saya harus berpikir, itu urusan Allah dengan hamba-hambaNya, dan saya tidak perlu mencampuri hidup mereka dengan pikiran-pikiran seperti ini.
.  Tapi coba biarlah dulu saya dengan pikiran lebih dari satu macam (urusan saya) ini.
Makan terpenuhi. Sandang, mereka masih berpakaian seadanya. Papan, rumah mereka sudah beranjak dari reot jadi lumayan bagus berkat program bantuan rumah sangat sederhana, dan uluran para caleg. Tiga anak sudah bisa sekolah, kan ada program wajib sekolah berbantuan sampai SMP?
.  Tapi saya berpikir urusan hidup tidak sebatas itu. Mampukah orang tuanya mengayomi mereka dengan semua kebutuhan hidup yang layak? Kasih sayang, perhatian dan binaan yang cukup? Layaknya yang berhak mereka terima dari orang tuanya, untuk bekal peran mereka ke depan.
.  Kalau hari ini saya mengetahui mereka masih ‘ada’, adanya mereka semoga tidak cuma bertahan hidup, sekedar melewatkan masa dari hidup mereka, atau jadi pelengkap penderita dari usaha orang lain yang berkecukupan.
Kembali ke soal ribetnya saya mencampuri urusan orang lain, mau menutupi fragmen pagi ini, biarlah itu urusan saya. Kalau ada yang sampai pusing dengan ulah saya ini, artinya dia juga sama, sudah mau pusing dengan urusan orang lain.
.  Asal tahu saja, kalau perhatian seperti ini sudah kita kikis habis, alamat fungsi dan peran kita dengan profesi guru, konselor, pemerhati, aktivis LSM, pemrihatin apa saja, sudah selesai masa berlakunya. Yang tersisa hanyalah pelaksana tugas berbayar. Karena kita digaji untuk itu, atau ada iming-iming jasa yang kita ambil dari sana.
Selamat pagi dan hampir siang
.  (Di Timur Fajar)

 

 

About Di Timur Fajar (DTF)

Aku andaikan mereka dan mereka andaikan aku. Cobalah berempati: merasakan berada pada posisi mereka, maka akan banyak yang bisa kita mengerti dan pahami tentang mereka, tentang kesalahan mereka. Karena kenyataan tidak pernah salah. Tuhan menghadiahi kita akal, bahwa ada kausalitas dalam setiap persoalan. Maka pandai-pandailah menguraikannya." Jadilah diri sendiri namun tak ada salahnya Anda(i) coba berempati dalam posisi orang lain. ( Di Timur Fajar / DTF )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s