(Mungkin Saya Salah, Tolong Dikoreksi)

Apakah untuk dan hanya karena si monster ini kita belajar?

Apakah untuk dan hanya karena si monster ini kita belajar?


. Sudah lama saya begitu cermat mengamati perilaku yang namanya Ujian Nasional.
. Masih setahun datangnya, saat siswa beranjak ke kelas III, siUN sudah menjadi momok yang mulai diperhitungkan, cenderung diwaspadai salah menyikapinya. Bahkan sekarang siswa sejak dari kelas I mulai (cenderung) dikatrol nilai raportnya untuk persiapan menggenapkannya dengan hasil nilai Ujian Nasional.
Banyak perdebatan seputar sahih tidaknya Ujian Nasional sebagai tolok ukur yang memvonis sukses gagalnya akhir belajar siswa di bangku sekolah. Saya tidak ingin menambahnya, tapi ingin berbagi pendapat mempertanyakan makna ujian dalam belajar siswa.
. Ujian sebenarnya alat evaluasi yang menilai sejauhmana keberhasilan belajar siswa pada satu satuan waktu: tengah(mid), smester, tahunan (kenaikan kelas), ujian akhir. Pada tahunan dan ujian akhir, ujian sudah bersifat vonis. Sukses atau gagal naik kelas atau lulus sekolah.
. Sebenarnya siapa yang dinilai dalam evaluasi belajar siswa? Menurut saya (mungkin saya salah, tolong dikoreksi) yang dinilai adalah semua hal yang membuat belajarnya siswa meningkat, stagnan atau malahan mundur. Jadi obyek penilaian adalah semua hal itu, sempurna atau padukah semua itu menunjang keberhasilan belajar siswa? Baik guru, media, metode, sarana dan fasilitas, maupun kebijakan kurikulumnya? Jadi yang dinilai adalah semua unsur lain dan bukannya siswa.
. Lalu siswa ditempatkan sebagai apa?
. Menurut saya, siswa kita tempatkan sebagai medium, atau apa namanya, yang mau memberitahukan dengan jujur melalui alat evaluasi itu, ujian atau ulangan, sejauhmana semua hal tadi berhasil meningkatkan belajar siswa atau sukses tidaknya di saat penentuan naik kelas atau lulus sekolah.
. Memberitahukannya harus secara jujur, dengan tidak memaksakan diri belajar mengada-ngada, dengan begitu malah mengganggu penilaian kita kepada semua hal/pihak yang akan dinilai tadi: guru, kepsek, pengambil kebijakan, sebagai subyek yang menggerakkan semua media, metode dan fasilitas yang menyempurnakan belajar siswa.
. Kenapa siswa tidak ditempatkan sebagai subyek? Dalam evaluasi tidak, tapi dalam proses belajar-mengajar mereka kita jadikan sebagai obyek taruhan kita sebagai pihak yang ingin kita rubah dari tidak tahu menjadi tahu.
. Lagi-lagi kenapa siswa tidak ditempatkan sebagai subyek?
. Mereka kita tempatkan sebagai subyek yang mau dengan sadar membelajarkan diri, mencapai perubahan melalui bantuan guru dan subyek lain serta perangkat pembantu. Sebagai subyek mereka bisa menempatkan dirinya sebagai obyek yang dinilai sendiri sejauh mana menyadari dirinya sudah berhasil atau belum.
. Nah, baik sebagai subyek mau pun obyek, siswa menjadi obyek medium yang diamati terus menerus, sejauhmana berhasil dikembangkan oleh semua hal yang berperan ke sana. Peran semua itulah yang dinilai dalam ujian belajar siswa.
. Lalu tidak perlukah ujian sebagai penentu kenaikan kelas atau lulus sekolah?
. Perlu. Kalau perspektif evaluasi tadi di atas sebenarnya target yang dikejar di saat sebelum kenaikan kelas atau ujian. Semua alat/pihak yang dievaluasi terus mengfollow up diri dan alatnya sudah membuat belajar siswa purna ketika tiba pada saatnya ujian akhir dan kenaikan kelas. Karena sudah pada tahap evaluasi dengan nilai harga tetap/mati.
. Pada evaluasi dengan nilai dan harga tetap itu, siswa cuma tinggal memberitahukan harga atau nilai belajarnya untuk penjurusan pada kenaikan kelas, dan penentuan ke mana kelanjutan pendidikan selanjutnya pada ujian akir sekolah. Jadi tidak ada lagi namanya kegagalan siswa. Gagal adalah kegagalan semua hal yang berperan dalam keberhasilan siswa yang tidak terkejar sampai pada tahap itu. jadi guru dan semua pihaklah yang seharusnya dinyatakan gagal dan lulus ujian kalau mau dikatakan demikian.
. (Di Timur Fajar)

1302551933780545049_300x382.47011952191

Ini rumus alien, apa?

About Di Timur Fajar (DTF)

Aku andaikan mereka dan mereka andaikan aku. Cobalah berempati: merasakan berada pada posisi mereka, maka akan banyak yang bisa kita mengerti dan pahami tentang mereka, tentang kesalahan mereka. Karena kenyataan tidak pernah salah. Tuhan menghadiahi kita akal, bahwa ada kausalitas dalam setiap persoalan. Maka pandai-pandailah menguraikannya." Jadilah diri sendiri namun tak ada salahnya Anda(i) coba berempati dalam posisi orang lain. ( Di Timur Fajar / DTF )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s