DTF  – B 03). Kalau Saya Punya Sekolah
(Tulisan Khayalan yang akan terus coba diperbaiki/belum final)
Saya itu membayangkan sesulit apa realitas persoalan yang tengah dihadapi bangsa ini, apakah itu tidak bisa disikapi dan temukan jalan keluarnya oleh sekian banyak benak cerdas putra-putri terbaik bangsa ini?
Saya kira bisa. Pasti! Yang jadi soal bagaimana setiap gagasan dan konsep yang datang, tidak soal dari siapa, bisa mendapatkan fasilitas dan kemudahan untuk menguji-cobanya. Juga otoritas buat penerapannya. Berikan mereka kesempatan tanpa aral dan penolakan yang tidak perlu. Tantangan dan kesulitan sudah pasti ada, dan untuk itu setiap ide dan gagasan mereka akan diuji keuletan melewatinya.
Saya bayangkan seperti ini. Saya punya obsessi bagaimana seharusnya pendidikan itu dilaksanakan.
Berikan saya sekolah (kesempatan), juga otoritas untuk memanejemennya. Tidak pakai hambatan yang tidak perlu. Bahkan guru dan kurikulumnya saya yang tentukan.
Mereka manut dibawah saya? Bukan! Saya minta mereka manut dengan apa yang terbaik yang bisa dipikirkan bersama, tapi saya yang putuskan. Kan saya kepala sekolahnya?!
Apakah saya punya kapasitas untuk itu?
Jujur saja belum tentu punya. Tapi saya tidak perlu menguras apa yang tidak ada dari diri saya, karena saya bisa menghimpunnya dari luar.
Bersama potensi dari dalam, guru-guru dan staf administrasi, bahkan murid-murid sekali pun, dimintai peran sertanya menentukan belajar apa yang terbaik bagi dirinya, saya tambahkan nara sumber dari luar. Saya akan meminta masukan dari pakar-pakar pendidikan teman-teman saya di sini, yang secerdas: Ibu Sri Endang Susetiawati, secantik pikirannya Bu Aridha Prassetya, seganteng terobosan konsep-pak Johan Wahyudi, Pak Wijaya Kusumah, siapa lagi? Oh, ada untung tidak lupa, nanti dia tersingg, eh tersungging kalau terlewatkan, dia dosen Pak Muhammad Armand.
Saya minta mereka mencermati proses pendidikan yang sudah, tengah dan apa yang akan saya jalankan. Himpun dan berikan masukan yang terbaik. Saya yang putuskan, tentunya setelah menerima pertimbangan dari tim penasehat saya. Tidak ada unsur politik, tidak ada kepentingan dan campur tangan dari pihak mana pun yang tidak perlu.
Bahkan kurikulumnya saya minta diberikan hak untuk menentukan sendiri. Bentuk programnya saya sesuaikan dengan setiap pemikiran yang berkembang mencari bentuknya yang terbaik. Terapannya langsung, tidak pake lama. Tidak pakai seminar sana-sini yang habiskan duit untuk seminar, belum untuk penerapannya yang anggarannya berbusa-busa, padahal substansinya belum tentu valid di tengah realitas pendidikan kini. Yang sudah jauh panggang dari api, jauh harapan dari kenyataan, Jauhnya sok ngatur kebijakan di pusat sana dari jembatan gantung di Banten yang sudah setengah putus di situ bergelayutan tangan-tangan mungil dan ringkih anak-anak didik kita yang tidak kenal takut mengejar asa kebutuhan belajar dari atas jeram deras air kuala yang siap menghanyutkan.
Eh, jadi ke mana-mana ceritanya, maklum gini kalau prihatin lagi membludak.
Nah kembali ke laptop.
Sekolah saya apakah melaksanakan Ujian Nasional? Tidak perlu. Tapi evaluasi tetap ada. Ujian dan ulangan justru menjadikan guru, metode, dan semua perangkatnya sebagai obyek evaluasi. Jadi bukan murid, guru dan saya kepala sekolahnya yang akan dinilai, sukses apa tidak melangsungkan transfer pengajarannya. Murid malah diminta jujur sebagai media yang memberitahukan tingkat keberhasilan pengajaran kami.
Jadi kalau boleh semua harus lulus. Semakin sulit kemampuan belajar segelintir siswa, alias bodoh; akan jadi satu tantangan untuk kami staf pengajar dan pengambil kebijakan membuatnya bisa melewati kesulitan belajar di bawah rata-ratanya. Beberapa kasus kesulitan belajar dilemparkan keluar untuk mendapatkan solusi diagnostikya (istilahnya apa terserah kasih tahu apa tepatnya, saya kan lagi ngawur). Jadi bukan muridnya yang bermasalah yang dilempar. Tidak mencari sekolah buangan sebagai TPAnya. Tidak perlu mengekslusifkan sekolah hanya untuk yang sudah pintar dari sononya, milih-milih yang pintar lalu membanggakan diri sebagai sekolah yang berhasil, standar internasional. Lha jagonya di mana, yang diajar juga gampang, karena sudah pintar.
(Maafkan saya, lagi ketawa sendiri )
Apa lagi? Masih ada?
Oh iya, kalau tidak pakai UN terus di mana apa tuh namanya? Sahihnya kualitas out put sekolah saya?
Boleh, begini saja. Terhadap lulusan dua sekolah model ini, sekolah saya dan sekolahnya Mendiknas, mereka diberikan kesempatan saling memberikan soal. Misalnya murid lulusan sekolah UNnya Mendiknas silakan memberi soal macam ini: berapa a = b, akar pangkat kwadrat, sinus cosinus tanges ke secans? (tolong ganti soalnya yang resmi)
Nah, apa nanti jawaban dari murid saya? Terserah, mereka mau jawab apa, terutama tidak usah pake bocoran ketidakjujuran UN dari kami guru dan kepseknya. Boleh jadi jujur mereka jawab, tidak tahu. Yang muncul kemudian mereka balik bertanya, di tempat dan jalan mana mereka bisa berpapasan dengan soal-soal itu? Manfaat atau paling tidak wujud operasionalnya dalam keseharian mereka? Kalau ada di kejauhan, di mana itu? Buat coba dari dekat melihat atau merasakan implementasinya, korelasinya?
Ahaa, kalau murid si UN jawab, itu nanti akan ditemukan kalau mereka akan jadi insinyur tehnik, seperti yang sempat mereka dengar dari guru fak mengajarnya, itu pun karena ada salah satu murid yang stress kelepasan nanya.
Jawaban itu bisa disanggah murid-murid saya karena mereka sudah dilatih mengkritisi manfaat dari setiap apa yang mereka pelajari. Kalau manfaatnya nanti di kejauhan dan kelak sudah berprofesi ahli tehnik itu, kenapa tidak menunggu dekat-dekat situ baru diajarkan?
Ketika murid-murid saya dikasih kesempatan memberi soal hitungan buat si murid UN, soalnya tidak terlalu sulit: hanya soal tambah kurang kali bagi. Misalnya soal yang mereka kasih. Diketahui gaji si A dikantor B ada 2.5 juta sebulan. Terus selama setahun atau 12 bulan gajinya terkumpul jadi berapa?
Gampang kan soalnya. Yah jadi 30 juta dong. Nah gampang kan? Yang tidak gampang kan kalau setelah itu ditanya, terus darimana selisihnya Si A itu bisa punya rumah mentreng senilai 500 juta, punya sawah tiga hektar, punya tabungan sekian ribu dollar?
Soal-soal itu karena mudah, mudah pula menemukan kegunaannya dalam realitas keidupan sosial kita.
Karena semua orang tahu berhitung, yang terima gaji tahu, yang bendahara tahu, masyarakat tahu, jadi mereka jadi tahu mana hitung-hitungan yang benar dan yang salah, karena pegawai yang tidak tahu kalau masyarakat sosialnya tahu, nantinya akan diberitahu, rakyat kita sudah pintar berhitungnya.
Ah, capek bercerita tentang sekolah saya, ini juga sudah kejauhan dan sayup sayu ceritanya. Cerita mau ngantuk nih. Kapan-kapan saja kelanjutannya.
A haa, senang bisa punya sekolah walau cuma di atas awan. Negeri di atas awan.
Status DTF

About Di Timur Fajar (DTF)

Aku andaikan mereka dan mereka andaikan aku. Cobalah berempati: merasakan berada pada posisi mereka, maka akan banyak yang bisa kita mengerti dan pahami tentang mereka, tentang kesalahan mereka. Karena kenyataan tidak pernah salah. Tuhan menghadiahi kita akal, bahwa ada kausalitas dalam setiap persoalan. Maka pandai-pandailah menguraikannya." Jadilah diri sendiri namun tak ada salahnya Anda(i) coba berempati dalam posisi orang lain. ( Di Timur Fajar / DTF )

8 responses »

  1. faziazen berkata:

    kalau cuma tambah kurang kali bagi apa gak kurang? walaupun dulu diajari kpk fpb integral dan sebagainya..ternyata suatu saat akan berguna

    • ‘Suatu saat’nya kenapa tidak didekatkan pada kebutuhan belajar kita, Faziazen?
      Misalnya menunggu dekat dengan waktu perhitungan itu akan sering kita gunakan, atau membuat kita anak didik memahami untuk apa dan dalam hal apa hitungan itu dipakai.
      Kalau tidak begitu penting, cukupkan saja sebagai pelajaran asal tahu dan tidak perlu bergelumut lama. Tidak perlu harus menghapal mati semua rumus-rumus yang hampir tidak pernah kita gunakan. Ajarkan saja secara kesimpulan, misalnya, bahwa semua bentuk bangun dua atau tiga dimensi ada rumus mencari luas dan isinya,. Tidak perlu disuruh hapal rumus segitiga sama sisi, limas, lingkaran, prisma, jajaran genjang dlsb. Fokuskan saja pada hitung2an yang paling sering digunakan.misalnya mencari luas persegi lalu diperkenalkan kegunaannya dalam kehidupan sehari2. Misalnya kalau kita membeli sebidang tanah, kita perlu mencari luas untuk menentukan harga dari sebidang tanah yang bentuknya persegi panjang.
      Asal tahu saja, sampai sekarang sebagai mantan urid SMA IPA, saya tidak tahu untuk apa dan di mana saya harus berhitung soal kpk, fpb dan integral.
      Terima kasih sudah sudi berbagi pendapatnya di sini.
      Salam pertemanan…

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb…DFT,

    Mawar berseri di pagi hari
    Pancaran putihnya menyapa nurani
    Berqurban kita memutih hati
    Semoga Allah sentiasa meredhai

    Salam Aidil Adha 1434H dari Sarikei, Sarawak.

  3. Masya Allah, besar sekali cita-cita DTF untuk punya sekolah sendiri, jadi kepala sekolah sendiri, punya guru-guru sendiri, anak-anak murid sendiri dan semuanya sendiri-sendiri…hehehe

    Maaf ya, kalau saya turut ketawa membaca ide sekolah atas awan DFT ini. Hebat dan bagus sekali. Saya suka kepada orang yang berani bermimpi. Menandakan kebijakan dan sikap optimisnya kepada apa yang berlaku sekarang. tentu pendidikan di Indonesia kini meresahkan DTF untuk diubah corak gaya pemngajaran dan pembelajarannya biar terlahir ramai HAMKA atau HABIBIE di sana. Betul ya atau DTF ada tokoh hebat yang lain. 😀

    Bermimpi dan mengimpikan sesuatu yang belum tentu berhasil @ mustahil bukan satu dosa dan kesalahan. tetapi ia satu cita-cita besar yang mungkin akan menjadi nyata bukan ketika kita mengimpikannya sekarang tetapi mungkin oleh generasi DTF akan datang yang disuarakan mimpi itu.

    Kalau saya juga bisa menjadi salah seorang gurunya, bagus ya. Ada juga bahasa internasionalnya nanti iaitu Bahasa Melayu Malaysia…kok membantu untuk bermimpi sama nih…hehehe.

    Hebat dan salut dari saya. Didoakan mimpinya bisa jadi nyata suatu hari nanti. ASAL BERANI BERMIMPI, SEGALANYA MUNGKIN. Insya Allah.

    Salam hormat takzim dari Sarikei, Sarawak. 😀

    • Hahaha, senang ada yang ikut meramaikan mimpi saya.
      Di sini negeri mimpi mbak. Baru bisa mimpi inginkan yang baik-baik.
      Ah, gak eloklah saya menguraikan yang kurang dan kurang dari realitas dunia pendidikan di negeri saya. Tapi begitulah yang sangat memprihatinkan saya. Karena tak ingin mencari dunia lain, biarlah hujan batu di negeri sendiri. Makanya batunya saya pengen sulap jadi emas walau cuma dalam mimpi.
      Mimpi di atas masih ingin saya rajut lebih baik lagi, biar lebih realistis dan mudah dicerna oleh lebih banyak orang , tidak sekedar saya.
      Sebenarnya banyak orang punya ide dan gagasan yang cemerlang. Tapi sesederhana apa pun suatu ide, akan jadi berkilau kalau diasah dan terus dapatkan kesempatannya untuk diwujudkan.
      Jadi, kalau saja kesempatan untuk itu terbuka lebar, akan banyak mimpi-mimpi jadi kenyataan.
      Maka untuk orang dengan ide dan gagasannya yang mampet, berikanlah mereka peluang, akan mereka jadikan setiap mimpi jadi kenyataan.
      Salam hormat dan takzim juga dari saya.
      Di Timur Fajar – Indonesia. :-).

      • Alhamdulillah, bisa jadi sahabat sejalan dalam merealisaikan mimpi DTF, kok. iya, berkongsi ide dan pendapat misalnya. Itukan bagus agar diketahui bagaimana sistem pendidikan di luar negeri DTF.

        Kenapa ya, dibilang negeri ini, negeri mimpi. Masak ramai yang mahu bermimpi jadi sekian pemimpinya. Nanti kalau rame yang bermimpi, sibuk lho alam mimpinya. Biar mimpi itu bisa jadi kenyataan dengan memuntahkan segala angan-angan seperti disuarakan ke koran-koran.

        bener dan saya setuju, bahawa peluang harus diberi kepada sesiapa yang punya potensi untuk menggerakkan kecemerlangan dalam pendidikan asal sahaja mesti faham misi dan visinya. Perjuangan memartabatkan pendidikan bukan agenda yang mudah, memerlukan kebijaksanaan dalam membuat interpretasi masa depan pendidikan itu sendiri dan signifikannya kepada dunia semasa.

        Saya doakanapa sahaja yang baik-baik dalam pemikiran dan rencana DTF akan dikabulkan Allah SWT. Malah dengan niat dan menulis sesuatu kehendak yang membawa manfaat kepada orang lain sahaja sudah dikira pahala. Hanya perlu kepada tindakan dan implimentasinya.

        salut ya atas mimpi-mimpinya yang hebat.
        Salam hormat dari saya. 😀

  4. Salut dan terima kasih atas kesediaan Mbak Siti dalam mengarungi lautan mimpi-mimpi saya yang terus dikayuh buat berlabuh di alam nyata.
    Selagi kita punya keinginan baik, tapi belum mampu kita realisasikan dengan baik, biarlah semua yang baik-baik itu kita simpan dalam harapan dan cita-cita untuk mewujudkannya.
    Tak perlu berputus asa. Teruslah berdoa untuk diberikan jalan dari Yang Maha Kuasa menemukan labuhan pengabdian dan perwujudan dari semua mimpi-mimpi kita.
    Asal kita terus bertekad mengayuh biduk mimpi2 kita menerjang ombak, melampaui karang yang bisa mengaramkan, bila Tuhan berkehendak, semua akan mudah menemukan jalannya.
    Terima kasih atas harapan yang terus didoakan dari mimpi-mimpi saya. Moga doanya segera diIjabah oleh Yang Maha Mewujudkan setiap mimpi hamba-hambanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s